Selasa, 20 Februari 2018

Makalah Pemikiran Politik Sigmund Freud

MAKALAH PEMIKIRAN POLITIK BARAT

“Pemikiran Politik Sigmund Freud”
Dosen Pengampu: Abdul Kohar



preview_html_m6a93ae1f.jpg

Disusun Oleh:
Tri Sektiono (1431040096)

PEMIKIRAN POLITIK ISLAM
FAKULTAS USHULUDDIN
IAIN RADEN INTAN LAMPUNG
2016/2017


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Seperti yang kita ketahui bahwasanya semenjak abad pertengahan di Eropa telah terjadi perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat pesat. Dan dari perkembangan itu munculah tokoh-tokoh pemikir yang memberikan sumbangsih yang sangat besar bagi perubahan peradaban di Eropa. Hal itu juga mendorong munculnya pemikiran-pemikiran dibidang politik, dengan tokoh-tokohnya yang terkenal seperti: Machiavelli, Thomas Hobbes, Jhon Lock, Montesquieu, Jean Jacques Rousseau, Karl Mark, Federich Engels, Vladimir Ilyich Lenin, Fidel Castro dan Sigmun Freud. Mereka adalah tokoh-tokong pemikir yang pemikiranya banyak digunakan oleh negara-negara didunia saat ini.
Dan kali ini kita akan mencoba membahas tentang pemikiran salahsatu pemikiran politik barat yang bernama Sigmun Freud. Meskipun Sigmun Freud lebih banyak mengkaji masalah psikologi namun teorinya yang terkenal dan sering dijadikan rujukan analisis adalah teks tentang perkembangan masyarakat dan budaya.
B.     Rumusan Masalah
1.      Siapakah sosok Sigmun Freud?
2.      Bagaimana Pemikiran Sigmun Freud tentang negara dan politik?
C.    Tujuan
Makalah ini dibuat dengan tujuan untuk beribadah kebada alloh sebagai wujud syukur terhadap nikmatNya dengan menggunakanya untuk bertolabul ilmi dan menambah pengetahuan penulis dan orang-orang yang mau membacanya. Serta untuk meenuhi tugas mata kuliah Pemikiran Politik Barat.


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Biografi Sigmun Freud
Sigmund Freud adalah penemu teori psikoanalisis. Oleh karena itu ia disebut sebagai babak Psikoanalisis. Nama asli Sigmund Freud adalah Sigismund Freud. Ia dilahirkan pada 6 Mei 1856, dengan nama Yahudi, Schlomo. Tempat kelahirannya adalah di Freiberg yang sekarang disebut dengan Pribor di Moravia. Ayahnya bernama Jacob Freud seorang pengusaha tekstil, memiliki dua anak dari perkawinan sebelumnya bernama Emmanuel dan Philippe. Ibu Freud sebenarnya bernama Amalia Nathansohn 1835-1930. Sebagai anak pertama Freud adalah anak yang paling disayangi oleh ibunya. Ia sering disebut dengan “My Golden Sigi”.(Jean Chiriac). Meskipun dari keluarga yang sangat sederhana, Freud adalah anak yang sangat berprestasi. Ia menerima penghargaan summa cum laudae sewaktu di sekolah dasar. Pada usia ini ia sudah menguasai beberapa bahasa, Freud adalah siswa yang mempunyai prestasi dalam bahasa Jerman. Seperti apa yang disebutkan dalam tulisan Peter Gray, pada usia 17 tahun Freud masuk Universitas Vienna. Ia merencanakan masuk di jurusan hukum, namun tanpa alasan yang jelas ia masuk di jurusan kedokteran.
Freud merupakan orang yang sangat tekun, ia sangat tertarik pada bidang fisiologi dan neurologi. Sigmund Freud lulus dari unversitas Vienna pada tahun 1881. Pada saat masuk di universitas Vienna, Freud adalah seorang ateis. Bisa dikatakan bahwa dia tidak percaya pada Tuhan. Ia sangat konsen pada hal-hal yang bersifat mistis (Myth). Pandangan dan ideologinya inilah yang kemudian mempengaruhi karya-karyanya. Kalau dilihat dari teman dan gurunya, Freud adalah seorang yang positifistik. Gurunya yang paling ia kenang adalah Ernst Bruene, yaitu seorang ahli fisiologi yang keras.
Dari sisi keluarga, Freud tidak pernah mendapat penekanan pada salah satu agama. Keluarganya memberi kebebasan kepadanya untuk berfikir sesuai dengan apa yang diyakini. Wajarlah jika akhirnya ia pun nampak tidak punya pendirian yang jelas mengenai suatu agama. Bahkan kaitannya dengan hal ini, Freud beranggapan bahwa agama adalah illusi. Setiap orang yang taat pada agama dianggapnya sebagai orang yang berada dalam ketakutan dan dalam ketidakberdayaan. (baca: agama).
Pada tahun 1882, Freud meninggalkan perkejaanya di laboratiorium dan menerima pekerjaan di RSU Veinna. Pada saat itu Freud bertemu dengan seorang gadis bernama Martha Bernays yang kemudian menjadi istrinya. Dari perkawinan inilah lahir Anna, yang kemudian menjadi seorang tokoh psychoanalysis terkemuka. Pada tahun 1890an Freud mulai menemukan fokus keahliannya yaitu dibidang psikologi. Ia telah membentuk teori psikoanalisis. Konsentrasi ini awalnya didasari atas dorongan dari Jean-Martin Charton, seorang ahli neurologi Prancis. Martin memberikan pemahaman yang mendalam tentang hipnotis. Sebagai sarana dalam mengatasi gangguan medis. Tesisnya menyatakan bahwa histeria merupakan suatu penyakit ringan yang diderita baik laki-laki maupun perempuan. Setelah menemukan ketertarikannya pada bidang psikologi, Freud mulai belajar gejala-gejala psilogis dari teman dan pasien-pasiennya. Freud bahkan semakin menspesialisasikan diri pada para perempuan yang menderita histeria. Dari proses mendengarkan keluhan-keluhan pasien inilah Freud banyak menemukan kebenaran-kebenaran dari apa yang ia pesepsikan. Pada tahun 1895, Freud bersama dengan Joseph Breuer menerbitkan Studies of Hysteria. Majalah ini membahas tentang kisah-kisah pasien Breuer “Anna O”. Anna O merupakan pasien yang paling penting dalam penelitian psikoanalisis. Mulai dari sinilah Freud menyadari bahwa histeria merupakan akibat kesalahan fungsi seksual dan gejala-gejalan histeria adalah sesuatu yang bisa dibicarakan. Seiring dengan semakin matangnya ketertarikan Freud pada psikoanalisis, ia mengembangkan gagasan psikoanalisis dari mimpi-mimpinya sendiri. Hal ini ia lakukan dengan menganalisis mimpi-mimpinya sendiri pada saat yang hampir bersamaan Freud juga menemukan bahwa gejala psikologis sangat penting dalam mempengaruhi hidup seseorang. Hal ini ia buktikan saat ayahnya meninggal pada tahun 1896. Kematian sang ayah memberikan dampak sangat penting atas diri Freud dan juga psikoanalisis. Setelah kesedihan inilah Freud mulia memfokuskan diri pada psikoanalisis pada diri sendiri.
Karya pertama Freud tentang psikoanalisis adalah The Interpretation of Dream tahun 1899.[1]  Meskipun karya ini tidak mendapat sambutan positif Freud tetap optimis dan selalu mengembangkan teori psikoanalisis dengan menulis buku yang kedua. Buku kedua ini diberi judul Psychopathology of Every Day Life ditulis pada 1901. Pada karya kedua inilah Freud mulai mendapat sambutan dari pembaca. Meskipun mendapat berbagai pertentangan dan kontraversi atas pemikirannya, akhirnya Freud mendapat gelar Professor di universitas Vienna.
Sepanjang tahun 1908 Freud mulai menyebarkan pemikiran psikoanalisisnya dengan diskusi-diskusi. Sampailah akhirnya terbentuk kelompok diskusi yang diberi nama Veinna Psychoanalytic Society.
B.                        Pemikiran Sigmund Freud
            Freud adalah seorang murid yang cemerlang, setiap tahun selalu nomor satu di antara teman-temanya di Gymnasium, dan lulus dengan pujian pada tahun 1873.  Freud adalah manusia dari zamannya. Ia memiliki nilai-nilai dari kaum borjuis abad kesembilan belas, dan tak dipungkiri  mendapat pengaruh positivisime ilmiah dan vitalisme, dan gaya hidupnya yang Victorian itu lalu mewarnai pandangannya mengenai seksualitas.  Selain itu, Freud juga senantiasa dinilai sebagai seorang pemikir yang kontroversial dan masih akan tetap demikian. Hal ini terkait dengan pemikirannya mengenai seksualitas serta psike, walaupun dengan kecermelangannya dalam menemukan psikoanalisis melalui analisis mengenai gejala-gejala yang sampai saat itu ( masa hidup Freud)— dianggap hal yang tak teranalisis, seperti mimpi dan selip lidah ( igau).
Karya tulis Freud sangat menantang dalam pembahasan tentang entitas yang (relative) berlainan ; karya tersebut juga, bahkan terutama, menantang sebagai sebuah jejak pengembaraan intelektual agung yang di dalamnya psikoanalisis mengalami suatu transformasi halus dalam sekumpulan wacana yang terus berevolusi. Sebagian transformasi  ini datang dari kenyataan bahwa Freud sendiri tidak seluruhnya mengendalikan konsep ( seperti kehidupan, kematian, kenikmatan dan sebagainya) yang ingin ia utarakan, dan karena konsep ini belum mantap. Singkatnya, Freud, yang menekankan pentingnya upaya melakukan interpretasi secara terus -menerus— Freud  yang mengatakan bahwa pada akhirnya ilmu psikoanalisis itu tidak pernah akan berakhir—Freud yang demikian, harus ditafsirkan dalam kerangka  pengertian tentang “ interpretasi tak terbatas”seperti yang pertama kali ia usulkan.
Sebagian besar hidup Freud diabdikan untuk memformulasikan dan mengembangkan tentang teori psikoanalisisnya. Uniknya, saat ia sedang mengalami problema emosional yang sangat berat adalah saat kreativitasnya muncul. Pada umur paruh pertama empat puluhan ia banyak mengalami bermacam psikomatik, juga rasa nyeri akan datangnya maut dan fobi-fobi lain. Dengan mengeksplorasi makna mimpi-mimpinya sendiri ia mendapat pemahaman tentang dinamika perkembangan kepribadian seseorang.

Pengertian Hakekat Manusia Bedasarkan Teori Kepribadian Menurut Freud. Hakekat Manusia Terbentuk dari kepribadian, ke pribadian adalah semua corak perilaku dan kebiasaan individu yang terhimpun dalam diri dan digunakan untuk bereaksi serta menyesuaikan diri terhadap segala rangsangan baik dari luar maupun dari dalam. Corak perilaku dan kebiasaan ini merupakan kesatuan fungsional yang khas pada seseorang. Perkembangan kepribadian tersebut bersifat dinamis, artinya selama individu masih bertambah pengetahuannya dan mau belajar serta menambah pengalaman dan keterampilan, mereka akan semakin matang dan mantap kepribadiannya (Depkes, 1992).
Dalam bahasa latin asal kata personaliti dari persona (topeng), sedangkan dalam ilmu psikologi menurut, Gordon W.Allport : suatu organisasi yang dinamis dari sistem psiko-fisik individu yang menentukan tingkah laku dan pemikiran individu secara khas. Interaksi psiko-fisik mengarahkan tingkah laku manusia.
Kepribadian adalah ciri, karakteristik, gaya atau sifat-sifat yang memang khas dikaitkan dengan diri kita. Dapat dikatakan bahwa kepribadian itu bersumber dari bentukan-bentukan yang kita terima dari lingkungan, misalnya bentukan dari keluarga pada masa kecil dan juga bawaan-bawaan yang dibawa sejak lahir. Jadi yang disebut kepribadian itu sebetulnya adalah campuran dari hal-hal yang bersifat psikologis, kejiwaan dan juga yang bersifat fisik.

Struktur Kepribadian Manusia
 Struktur kepribadian merupakan unsur-unsur atau komponen yang membentuk diri seseorang secara psikologis. Salah satu contoh struktur kepribadian yang paling tua gagasannya adalah menurut Sigmund Frued tokoh psikoanalisa. Berdasarkan beberapa penelitian pada klien yang mengalami masalah kejiwaan ia menyimpulkan bahwa diri manusia dalam membentuk kepribadianya terdiri atas 3 komponen utama yaitu Das es, das ich, das Uber Ichistilah lainnya id, ego, super ego. Untuk memudahkan pemahaman, Id artinya nafsu atau dorongan-dorongan kenikmatan yang harus dipuaskan, bersifat alamiah pada manusia. Ego dapat dianalogikan sebagai kemampuan otak atau akal yang membimbing manusia untuk mencari jalan keluar terhadap masalah melalui penalarannya. Sedangkan Super Ego sebagai norma, aturan, agama, norma sosial.
Menurut Sigmund Freud, perilaku manusia itu ditentukan oleh kekuatan irrasional yang tidak disadari dari dorongan biologis dan dorongan naluri psikoseksual tertentu pada masa enam tahun pertama dalam kehidupannya. Pandangan ini menunjukkan bahwa aliran teori Freud tentang sifat manusia pada dasarnya adalah deterministik. Namun demikian menurut Gerald Corey yang mengutip perkataan Kovel, bahwa dengan tertumpu pada dialektika antara sadar dan tidak sadar, determinisme yang telah dinyatakan pada aliran Freud luluh. Lebih jauh Kovel menyatakan bahwa jalan pikiran itu adalah ditentukan, tetapi tidak linier. Ajaran psikoanalisis menyatakan bahwa perilaku seseorang itu lebih rumit dari pada apa yang dibayangkan pada orang tersebut. Di sini, Freud memberikan indikasi bahwa tantangan terbesar yang dihadapi manusia adalah bagaimana mengendalikan dorongan agresif itu. Bagi Sigmund Freud, rasa resah dan cemas seseorang itu ada hubungannya dengan kenyataan bahwa mereka tahu umat manusia itu akan punah. Kecemasan muncul karena adanya konflik antara id dengan super ego.
Dalam teori psikoanalitik, struktur kepribadian manusia itu terdiri dari id, ego dan superego. Id adalah komponen kepribadian yang berisi impuls agresif dan libinal, dimana sistem kerjanya dengan prinsip kesenangan “pleasure principle”. Ego adalah bagian kepribadian yang bertugas sebagai pelaksana , dimana sistem kerjanya pada dunia luar untuk menilai realita dan berhubungan dengan dunia dalam untuk mengatur dorongan-dorongan id agar tidak melanggar nilai-nilai superego. Superego adalah bagian moral dari kepribadian manusia, karena ia merupakan filter dari sensor baik- buruk, salah-benar, boleh- tidak sesuatu yang dilakukan oleh dorongan ego. Cara kerja masing-masing struktur dalam pembentukan kepribadian adalah:
a.       apabila rasa id -nya menguasai sebagian besar energi psikis itu, maka pribadinya akan bertindak primitif, implusif dan agresif dan ia akan mengumbar impuls-impuls primitifnya,
b.      apabila rasa ego-nya menguasai sebagian besar energi psikis itu, maka pribadinya bertindak dengan cara-cara yang realistik, logis, dan rasional, dan (3) apabila rasa super ego-nya menguasai sebagian besar energi psikis itu, maka pribadinya akan bertindak pada hal-hal yang bersifat moralitas , mengejar hal-hal yang sempurna yang kadang-kadang irrasional.

Sistem kerja ketiga struktur kepribadian manusia tersebut adalah:
Pertama, Id merupakan sistem kepribadian yang orisinil , dimana ketika manusia itu dilahirkan ia hanya memiliki Id saja, karena ia merupakan sumber utama dari energi psikis dan tempat timbulnya instink. Id tidak memiliki organisasi, buta, dan banyak tuntutan dengan selalu memaksakan kehendaknya. Aktivitas Id dikendalikan oleh prinsip kenikmatan dan proses primer. Id mulai berkembang pada usia bayi, bagian kepribadian yang paling primitif, dan sudah ada sejak lahir Aspek biologis dari kepribadian. Id terdiri dari dorongan (impuls) dasar : kebutuhan makan, minum, eliminasi, menghindari rasa sakit, memperoleh kenikmatan sosial. Id juga merupakan kondisi Unconsciousness, sumber energi psikis, sistem kepribadian yang dasar, terdapat naluri-naluri bawaan, berisi keinginan-keinginan yang belum tentu sesuai dengan norma. Id biasanya menuntut segera dipuaskan (the principles of constancy). Id akanMenjalankan fungsi tindakan refleks dan proses berpikir primer.
Kedua, Ego mengadakan kontak dengan dunia realitas yang ada di luar dirinya. Di sini ego berperan sebagai “eksekutif” yang memerintah, mengatur dan mengendalikan kepribadian, sehingga prosesnya persis seperti “polisi lalulintas” yang selalu mengontrol jalannya id, super-ego dan dunia luar. Ia bertindak sebagai penengah antara instink dengan dunia di sekelilingnya. Ego ini muncul disebabkan oleh kebutuhan-kebutuhan dari suatu organisme, seperti manusia lapar butuh makan. Jadi lapar adalah kerja Id, yang memutuskan untuk mencari dan mendapatkan serta melaksanakan itu adalah kerja ego.sedangkan pertimbangan halal dan haram dalam mencari makan adalah kerja Super ego. Ego mulai berkembang pada usia 2-3 tahun. Ego merupakan aspek psikologis kepribadian. Ego berada pada tingkat pra sadar. Ego menjalankan fungsi dengan proses berpikir sekunder (rasional). Ego merupakan hasil kontak individu dengan dunia luar atau lingkungan (The realita of principles) dan penengah tuntutan id dan superego.
ketiga, superego adalah yang memegang keadilan atau sebagai filter dari kedua sistem kepribadian, sehingga tahu benar-salah, baik-buruk, boleh-tidak dan sebagainya. Disini superego bertindak sebagai sesuatu yang ideal, yang sesuai dengan norma-norma moral masyarakat. Super ego Mulai berkembang pada usia 4-6 tahun. Super Ego merupakan aspek sosiologis kepribadian, sistem kepribadian yang berisikan nilai-nilai dan aturan yang sifatnya evaluatif. Terbentuk melalui internalisasi nilai-nilai atau aturan-aturan dari significant others. Berfungsi dalam legislatif dan yudikatif. Super Ego juga terdiri dari : kata hati (nurani) & ego ideal. Fungsi utama: 1) pengendali id, 2) mengarahkan ego pada tujuan yang sesuai dengan moral ketimbang kenyataan, 3) mendorong individu ke arah kesempurnaan.
Menurut Sigmund Freud, seseorang berperilaku karena ingin memenuhi kebutuhan bawah sadarnya, Kebutuhan tersebut bahkan tidak disadari oleh yang bersangkutan. Seorang pemimpin berperilaku tertentu barangkali bukan karena untuk memenuhi kepentingan bawahannya, tetapi untuk mengkompensasi kepribadiannya yang frustasi. Jadi dengan demikian, teori ini mengatakan bahwa manusia sangat kompleks. Penampilan luar tidak dapat dijadikan pegangan.

BAB II
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Bahwasanya Sigmund Freud adalah seorang tokoh psikologi, dan hanya sedikit sekali pemikiranya yang membicarakan tentang politik. Salah satu pemikiranya adalah tentang psikoanalisa yang membahas bahwasanya kebiasaan dimasa kecil sesorang akan menentukan perilakunya dimasa tua.
Salahsatu pemikiranya tentang psikoanalisa ini dapat diterapkan didunia politik dapat kita lihat dari gaya kepemimpinan seseorang. seseorang berperilaku karena ingin memenuhi kebutuhan bawah sadarnya, Kebutuhan tersebut bahkan tidak disadari oleh yang bersangkutan. Seorang pemimpin berperilaku tertentu barangkali bukan karena untuk memenuhi kepentingan bawahannya, tetapi untuk mengkompensasi kepribadiannya yang frustasi. Jadi dengan demikian, teori ini mengatakan bahwa manusia sangat kompleks. Penampilan luar tidak dapat dijadikan pegangan.



[1] http://wajirannet.blogspot.co.id/2007/09/konsep-sastra-menurut-sigmund-freud.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Makalah Etika Politik Islam

MAKALAH ETIKA POLITIK ISLAM “Prinsip Politik Dalam Hidup Bermasyarakat Bernegara Dalam Ajaran Islam” Dosen Pengampu: Dr. M. Sidi Ritu...