MAKALAH PEMIKIRAN POLITIK BARAT
“Pemikiran Politik Sigmund Freud”
Dosen Pengampu: Abdul Kohar

Disusun
Oleh:
Tri
Sektiono (1431040096)
PEMIKIRAN
POLITIK ISLAM
FAKULTAS
USHULUDDIN
IAIN RADEN
INTAN LAMPUNG
2016/2017
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Seperti yang kita ketahui bahwasanya semenjak abad pertengahan di Eropa
telah terjadi perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat pesat. Dan dari
perkembangan itu munculah tokoh-tokoh pemikir yang memberikan sumbangsih yang
sangat besar bagi perubahan peradaban di Eropa. Hal itu juga mendorong
munculnya pemikiran-pemikiran dibidang politik, dengan tokoh-tokohnya yang
terkenal seperti: Machiavelli, Thomas Hobbes, Jhon Lock, Montesquieu, Jean
Jacques Rousseau, Karl Mark, Federich Engels, Vladimir Ilyich Lenin, Fidel
Castro dan Sigmun Freud. Mereka adalah tokoh-tokong pemikir yang pemikiranya
banyak digunakan oleh negara-negara didunia saat ini.
Dan kali ini kita akan mencoba membahas tentang pemikiran salahsatu
pemikiran politik barat yang bernama Sigmun Freud. Meskipun Sigmun Freud lebih
banyak mengkaji masalah psikologi namun teorinya yang terkenal dan sering
dijadikan rujukan analisis adalah teks tentang perkembangan masyarakat dan
budaya.
B.
Rumusan Masalah
1. Siapakah sosok Sigmun Freud?
2. Bagaimana Pemikiran Sigmun Freud tentang negara dan politik?
C.
Tujuan
Makalah ini dibuat dengan tujuan untuk beribadah kebada alloh sebagai
wujud syukur terhadap nikmatNya dengan menggunakanya untuk bertolabul ilmi dan menambah pengetahuan penulis dan orang-orang
yang mau membacanya. Serta untuk meenuhi tugas mata kuliah Pemikiran Politik
Barat.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Biografi Sigmun Freud
Sigmund Freud adalah penemu teori psikoanalisis. Oleh karena itu ia
disebut sebagai babak Psikoanalisis. Nama asli Sigmund Freud adalah Sigismund
Freud. Ia dilahirkan pada 6 Mei 1856, dengan nama Yahudi, Schlomo. Tempat
kelahirannya adalah di Freiberg yang sekarang disebut dengan Pribor di Moravia.
Ayahnya bernama Jacob Freud seorang pengusaha tekstil, memiliki dua anak dari
perkawinan sebelumnya bernama Emmanuel dan Philippe. Ibu Freud sebenarnya
bernama Amalia Nathansohn 1835-1930. Sebagai anak pertama Freud adalah anak
yang paling disayangi oleh ibunya. Ia sering disebut dengan “My Golden
Sigi”.(Jean Chiriac). Meskipun dari keluarga yang sangat sederhana, Freud
adalah anak yang sangat berprestasi. Ia menerima penghargaan summa cum laudae
sewaktu di sekolah dasar. Pada usia ini ia sudah menguasai beberapa bahasa,
Freud adalah siswa yang mempunyai prestasi dalam bahasa Jerman. Seperti apa
yang disebutkan dalam tulisan Peter Gray, pada usia 17 tahun Freud masuk
Universitas Vienna. Ia merencanakan masuk di jurusan hukum, namun tanpa alasan
yang jelas ia masuk di jurusan kedokteran.
Freud merupakan orang yang sangat tekun, ia sangat tertarik pada bidang
fisiologi dan neurologi. Sigmund Freud lulus dari unversitas Vienna pada tahun
1881. Pada saat masuk di universitas Vienna, Freud adalah seorang ateis. Bisa
dikatakan bahwa dia tidak percaya pada Tuhan. Ia sangat konsen pada hal-hal
yang bersifat mistis (Myth). Pandangan dan ideologinya inilah yang kemudian
mempengaruhi karya-karyanya. Kalau dilihat dari teman dan gurunya, Freud adalah
seorang yang positifistik. Gurunya yang paling ia kenang adalah Ernst Bruene,
yaitu seorang ahli fisiologi yang keras.
Dari sisi keluarga, Freud tidak pernah mendapat penekanan pada salah satu
agama. Keluarganya memberi kebebasan kepadanya untuk berfikir sesuai dengan apa
yang diyakini. Wajarlah jika akhirnya ia pun nampak tidak punya pendirian yang
jelas mengenai suatu agama. Bahkan kaitannya dengan hal ini, Freud beranggapan
bahwa agama adalah illusi. Setiap orang yang taat pada agama dianggapnya
sebagai orang yang berada dalam ketakutan dan dalam ketidakberdayaan. (baca:
agama).
Pada tahun 1882, Freud meninggalkan perkejaanya di laboratiorium dan
menerima pekerjaan di RSU Veinna. Pada saat itu Freud bertemu dengan seorang
gadis bernama Martha Bernays yang kemudian menjadi istrinya. Dari perkawinan
inilah lahir Anna, yang kemudian menjadi seorang tokoh psychoanalysis
terkemuka. Pada tahun 1890an Freud mulai menemukan fokus keahliannya yaitu
dibidang psikologi. Ia telah membentuk teori psikoanalisis. Konsentrasi ini
awalnya didasari atas dorongan dari Jean-Martin Charton, seorang ahli neurologi
Prancis. Martin memberikan pemahaman yang mendalam tentang hipnotis. Sebagai
sarana dalam mengatasi gangguan medis. Tesisnya menyatakan bahwa histeria
merupakan suatu penyakit ringan yang diderita baik laki-laki maupun perempuan.
Setelah menemukan ketertarikannya pada bidang psikologi, Freud mulai belajar
gejala-gejala psilogis dari teman dan pasien-pasiennya. Freud bahkan semakin
menspesialisasikan diri pada para perempuan yang menderita histeria. Dari
proses mendengarkan keluhan-keluhan pasien inilah Freud banyak menemukan
kebenaran-kebenaran dari apa yang ia pesepsikan. Pada tahun 1895, Freud bersama
dengan Joseph Breuer menerbitkan Studies of Hysteria. Majalah ini membahas
tentang kisah-kisah pasien Breuer “Anna O”. Anna O merupakan pasien yang paling
penting dalam penelitian psikoanalisis. Mulai dari sinilah Freud menyadari
bahwa histeria merupakan akibat kesalahan fungsi seksual dan gejala-gejalan
histeria adalah sesuatu yang bisa dibicarakan. Seiring dengan semakin matangnya
ketertarikan Freud pada psikoanalisis, ia mengembangkan gagasan psikoanalisis
dari mimpi-mimpinya sendiri. Hal ini ia lakukan dengan menganalisis
mimpi-mimpinya sendiri pada saat yang hampir bersamaan Freud juga menemukan
bahwa gejala psikologis sangat penting dalam mempengaruhi hidup seseorang. Hal
ini ia buktikan saat ayahnya meninggal pada tahun 1896. Kematian sang ayah
memberikan dampak sangat penting atas diri Freud dan juga psikoanalisis.
Setelah kesedihan inilah Freud mulia memfokuskan diri pada psikoanalisis pada
diri sendiri.
Karya pertama Freud tentang psikoanalisis adalah The Interpretation of
Dream tahun 1899.[1] Meskipun karya ini tidak mendapat sambutan
positif Freud tetap optimis dan selalu mengembangkan teori psikoanalisis dengan
menulis buku yang kedua. Buku kedua ini diberi judul Psychopathology of Every
Day Life ditulis pada 1901. Pada karya kedua inilah Freud mulai mendapat
sambutan dari pembaca. Meskipun mendapat berbagai pertentangan dan kontraversi
atas pemikirannya, akhirnya Freud mendapat gelar Professor di universitas
Vienna.
Sepanjang tahun 1908 Freud mulai menyebarkan pemikiran psikoanalisisnya
dengan diskusi-diskusi. Sampailah akhirnya terbentuk kelompok diskusi yang
diberi nama Veinna Psychoanalytic Society.
B. Pemikiran Sigmund Freud
Freud adalah
seorang murid yang cemerlang, setiap tahun selalu nomor satu di antara
teman-temanya di Gymnasium, dan lulus dengan pujian pada tahun 1873. Freud adalah manusia dari zamannya. Ia
memiliki nilai-nilai dari kaum borjuis abad kesembilan belas, dan tak
dipungkiri mendapat pengaruh positivisime ilmiah dan vitalisme, dan gaya
hidupnya yang Victorian itu lalu mewarnai pandangannya mengenai
seksualitas. Selain itu, Freud juga senantiasa dinilai sebagai seorang
pemikir yang kontroversial dan masih akan tetap demikian. Hal ini terkait
dengan pemikirannya mengenai seksualitas serta psike, walaupun dengan
kecermelangannya dalam menemukan psikoanalisis melalui analisis mengenai
gejala-gejala yang sampai saat itu ( masa hidup Freud)— dianggap hal yang tak
teranalisis, seperti mimpi dan selip lidah ( igau).
Karya tulis Freud
sangat menantang dalam pembahasan tentang entitas yang (relative) berlainan ;
karya tersebut juga, bahkan terutama, menantang sebagai sebuah jejak
pengembaraan intelektual agung yang di dalamnya psikoanalisis mengalami suatu
transformasi halus dalam sekumpulan wacana yang terus berevolusi. Sebagian
transformasi ini datang dari kenyataan bahwa Freud sendiri tidak
seluruhnya mengendalikan konsep ( seperti kehidupan, kematian, kenikmatan dan
sebagainya) yang ingin ia utarakan, dan karena konsep ini belum mantap.
Singkatnya, Freud, yang menekankan pentingnya upaya melakukan interpretasi
secara terus -menerus— Freud yang mengatakan bahwa pada akhirnya ilmu
psikoanalisis itu tidak pernah akan berakhir—Freud yang demikian, harus
ditafsirkan dalam kerangka pengertian tentang “ interpretasi tak
terbatas”seperti yang pertama kali ia usulkan.
Sebagian besar
hidup Freud diabdikan untuk memformulasikan dan mengembangkan tentang teori
psikoanalisisnya. Uniknya, saat ia sedang mengalami problema emosional yang sangat
berat adalah saat kreativitasnya muncul. Pada umur paruh pertama empat puluhan
ia banyak mengalami bermacam psikomatik, juga rasa nyeri akan datangnya maut
dan fobi-fobi lain. Dengan mengeksplorasi makna mimpi-mimpinya sendiri ia
mendapat pemahaman tentang dinamika perkembangan kepribadian seseorang.
Pengertian Hakekat Manusia
Bedasarkan Teori Kepribadian Menurut Freud. Hakekat Manusia Terbentuk dari
kepribadian, ke pribadian adalah semua corak perilaku dan kebiasaan individu
yang terhimpun dalam diri dan digunakan untuk bereaksi serta menyesuaikan diri
terhadap segala rangsangan baik dari luar maupun dari dalam. Corak perilaku dan
kebiasaan ini merupakan kesatuan fungsional yang khas pada seseorang.
Perkembangan kepribadian tersebut bersifat dinamis, artinya selama individu
masih bertambah pengetahuannya dan mau belajar serta menambah pengalaman dan
keterampilan, mereka akan semakin matang dan mantap kepribadiannya (Depkes,
1992).
Dalam bahasa latin asal kata personaliti dari persona (topeng), sedangkan dalam ilmu psikologi menurut, Gordon W.Allport : suatu organisasi yang dinamis dari sistem psiko-fisik individu yang menentukan tingkah laku dan pemikiran individu secara khas. Interaksi psiko-fisik mengarahkan tingkah laku manusia.
Dalam bahasa latin asal kata personaliti dari persona (topeng), sedangkan dalam ilmu psikologi menurut, Gordon W.Allport : suatu organisasi yang dinamis dari sistem psiko-fisik individu yang menentukan tingkah laku dan pemikiran individu secara khas. Interaksi psiko-fisik mengarahkan tingkah laku manusia.
Kepribadian adalah ciri,
karakteristik, gaya atau sifat-sifat yang memang khas dikaitkan dengan diri
kita. Dapat dikatakan bahwa kepribadian itu bersumber dari bentukan-bentukan
yang kita terima dari lingkungan, misalnya bentukan dari keluarga pada masa
kecil dan juga bawaan-bawaan yang dibawa sejak lahir. Jadi yang disebut
kepribadian itu sebetulnya adalah campuran dari hal-hal yang bersifat
psikologis, kejiwaan dan juga yang bersifat fisik.
Struktur Kepribadian Manusia
Struktur kepribadian
merupakan unsur-unsur atau komponen yang membentuk diri seseorang secara
psikologis. Salah satu contoh struktur kepribadian yang paling tua gagasannya
adalah menurut Sigmund Frued tokoh psikoanalisa. Berdasarkan beberapa
penelitian pada klien yang mengalami masalah kejiwaan ia menyimpulkan bahwa
diri manusia dalam membentuk kepribadianya terdiri atas 3 komponen utama yaitu
Das es, das ich, das Uber Ichistilah lainnya id, ego, super ego. Untuk
memudahkan pemahaman, Id artinya nafsu atau dorongan-dorongan kenikmatan yang
harus dipuaskan, bersifat alamiah pada manusia. Ego dapat dianalogikan sebagai
kemampuan otak atau akal yang membimbing manusia untuk mencari jalan keluar
terhadap masalah melalui penalarannya. Sedangkan Super Ego sebagai norma,
aturan, agama, norma sosial.
Menurut Sigmund
Freud, perilaku manusia itu ditentukan oleh kekuatan irrasional yang tidak
disadari dari dorongan biologis dan dorongan naluri psikoseksual tertentu pada
masa enam tahun pertama dalam kehidupannya. Pandangan ini menunjukkan bahwa
aliran teori Freud tentang sifat manusia pada dasarnya adalah deterministik.
Namun demikian menurut Gerald Corey yang mengutip perkataan Kovel, bahwa dengan
tertumpu pada dialektika antara sadar dan tidak sadar, determinisme yang telah
dinyatakan pada aliran Freud luluh. Lebih jauh Kovel menyatakan bahwa jalan
pikiran itu adalah ditentukan, tetapi tidak linier. Ajaran psikoanalisis
menyatakan bahwa perilaku seseorang itu lebih rumit dari pada apa yang
dibayangkan pada orang tersebut. Di sini, Freud memberikan indikasi bahwa
tantangan terbesar yang dihadapi manusia adalah bagaimana mengendalikan
dorongan agresif itu. Bagi Sigmund Freud, rasa resah dan cemas seseorang itu
ada hubungannya dengan kenyataan bahwa mereka tahu umat manusia itu akan punah.
Kecemasan muncul karena adanya konflik antara id dengan super ego.
Dalam teori
psikoanalitik, struktur kepribadian manusia itu terdiri dari id, ego dan
superego. Id adalah komponen kepribadian yang berisi impuls agresif dan
libinal, dimana sistem kerjanya dengan prinsip kesenangan “pleasure principle”.
Ego adalah bagian kepribadian yang bertugas sebagai pelaksana , dimana sistem
kerjanya pada dunia luar untuk menilai realita dan berhubungan dengan dunia
dalam untuk mengatur dorongan-dorongan id agar tidak melanggar nilai-nilai
superego. Superego adalah bagian moral dari kepribadian manusia, karena ia
merupakan filter dari sensor baik- buruk, salah-benar, boleh- tidak sesuatu
yang dilakukan oleh dorongan ego. Cara kerja masing-masing struktur dalam
pembentukan kepribadian adalah:
a.
apabila rasa id -nya
menguasai sebagian besar energi psikis itu, maka pribadinya akan bertindak
primitif, implusif dan agresif dan ia akan mengumbar impuls-impuls primitifnya,
b.
apabila rasa ego-nya
menguasai sebagian besar energi psikis itu, maka pribadinya bertindak dengan
cara-cara yang realistik, logis, dan rasional, dan (3) apabila rasa super
ego-nya menguasai sebagian besar energi psikis itu, maka pribadinya akan
bertindak pada hal-hal yang bersifat moralitas , mengejar hal-hal yang sempurna
yang kadang-kadang irrasional.
Sistem kerja ketiga struktur
kepribadian manusia tersebut adalah:
Pertama, Id
merupakan sistem kepribadian yang orisinil , dimana ketika manusia itu
dilahirkan ia hanya memiliki Id saja, karena ia merupakan sumber utama dari
energi psikis dan tempat timbulnya instink. Id tidak memiliki organisasi, buta,
dan banyak tuntutan dengan selalu memaksakan kehendaknya. Aktivitas Id
dikendalikan oleh prinsip kenikmatan dan proses primer. Id mulai berkembang
pada usia bayi, bagian kepribadian yang paling primitif, dan sudah ada sejak
lahir Aspek biologis dari kepribadian. Id terdiri dari dorongan (impuls) dasar
: kebutuhan makan, minum, eliminasi, menghindari rasa sakit, memperoleh
kenikmatan sosial. Id juga merupakan kondisi Unconsciousness, sumber energi psikis,
sistem kepribadian yang dasar, terdapat naluri-naluri bawaan, berisi
keinginan-keinginan yang belum tentu sesuai dengan norma. Id biasanya menuntut
segera dipuaskan (the principles of constancy). Id akanMenjalankan fungsi
tindakan refleks dan proses berpikir primer.
Kedua, Ego
mengadakan kontak dengan dunia realitas yang ada di luar dirinya. Di sini ego
berperan sebagai “eksekutif” yang memerintah, mengatur dan mengendalikan
kepribadian, sehingga prosesnya persis seperti “polisi lalulintas” yang selalu
mengontrol jalannya id, super-ego dan dunia luar. Ia bertindak sebagai penengah
antara instink dengan dunia di sekelilingnya. Ego ini muncul disebabkan oleh
kebutuhan-kebutuhan dari suatu organisme, seperti manusia lapar butuh makan.
Jadi lapar adalah kerja Id, yang memutuskan untuk mencari dan mendapatkan serta
melaksanakan itu adalah kerja ego.sedangkan pertimbangan halal dan haram dalam
mencari makan adalah kerja Super ego. Ego mulai berkembang pada usia 2-3 tahun.
Ego merupakan aspek psikologis kepribadian. Ego berada pada tingkat pra sadar.
Ego menjalankan fungsi dengan proses berpikir sekunder (rasional). Ego
merupakan hasil kontak individu dengan dunia luar atau lingkungan (The realita
of principles) dan penengah tuntutan id dan superego.
ketiga, superego
adalah yang memegang keadilan atau sebagai filter dari kedua sistem
kepribadian, sehingga tahu benar-salah, baik-buruk, boleh-tidak dan sebagainya.
Disini superego bertindak sebagai sesuatu yang ideal, yang sesuai dengan
norma-norma moral masyarakat. Super ego Mulai berkembang pada usia 4-6 tahun.
Super Ego merupakan aspek sosiologis kepribadian, sistem kepribadian yang
berisikan nilai-nilai dan aturan yang sifatnya evaluatif. Terbentuk melalui
internalisasi nilai-nilai atau aturan-aturan dari significant others. Berfungsi
dalam legislatif dan yudikatif. Super Ego juga terdiri dari : kata hati
(nurani) & ego ideal. Fungsi utama: 1) pengendali id, 2) mengarahkan ego
pada tujuan yang sesuai dengan moral ketimbang kenyataan, 3) mendorong individu
ke arah kesempurnaan.
Menurut Sigmund
Freud, seseorang berperilaku karena ingin memenuhi kebutuhan bawah sadarnya,
Kebutuhan tersebut bahkan tidak disadari oleh yang bersangkutan. Seorang
pemimpin berperilaku tertentu barangkali bukan karena untuk memenuhi kepentingan
bawahannya, tetapi untuk mengkompensasi kepribadiannya yang frustasi. Jadi dengan
demikian, teori ini mengatakan bahwa manusia sangat kompleks. Penampilan luar
tidak dapat dijadikan pegangan.
BAB II
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Bahwasanya
Sigmund Freud adalah seorang tokoh psikologi, dan hanya sedikit sekali
pemikiranya yang membicarakan tentang politik. Salah satu pemikiranya adalah
tentang psikoanalisa yang membahas bahwasanya kebiasaan dimasa kecil sesorang
akan menentukan perilakunya dimasa tua.
Salahsatu
pemikiranya tentang psikoanalisa ini dapat diterapkan didunia politik dapat
kita lihat dari gaya kepemimpinan seseorang. seseorang berperilaku karena ingin
memenuhi kebutuhan bawah sadarnya, Kebutuhan tersebut bahkan tidak disadari
oleh yang bersangkutan. Seorang pemimpin berperilaku tertentu barangkali bukan
karena untuk memenuhi kepentingan bawahannya, tetapi untuk mengkompensasi
kepribadiannya yang frustasi. Jadi dengan demikian, teori ini
mengatakan bahwa manusia sangat kompleks. Penampilan luar tidak dapat dijadikan
pegangan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar