Dalam beberapa perdebatan tentang demokrasi, tidak jarang mengemuka bahwa "Demokrasi bukanlah terbaik dari semua sistem pemerintahan yang ada sepanjang sejarah, tetapi demokrasi merupakan yang buruk dari yang terburuk". Maksudnya karena tidak ada lagi yang lebih sedikit buruknya dari demokrasi, maka serta-merta Demokratis menjadi inspirasi bagi penghayal kebebasan untuk diperjuangkan.
Itulah filosofi dasar demokrasi yang menempatkan kebebasan sebagai harga mutlak yang harus disebar ke setiap sudut dan ruang kehidupan rakyat. Karena itu, negara yang baru saja melakukan demokratisasi pasti rakyatnya mengalami euforia demokrasi. Euforia demokrasi yang berlebihan dan cenderung tidak terkendali dalam eskalasi pasar demokrasi Indonesia menjadi penyebab awal munculnya inflasi politisi setiap jelang pemilu.
Entah sependapat atau tidak, politikus dadakan ini oleh Ruslan Ismail Mage di identifikasi sebagai "Politisi Spanduk" (politikus yang mengabaikan hukum proses dengan mengandalkan elektabilitasnya dengan spanduk). Ia muncul tiba-tiba karena didukung oleh faktor modal sendiri atau gabungan modal dari komunitas tertentu tanpa memiliki jaringan-jaringan sosial ditengah masyarakat. Politikus spanduk ini mencoba memanfaatkan euforia demokrasi untuk ikut bertarung dalam memperebutkan kekuasaan dengan harapan suara rakyat dapat diarahkan.
Untuk mengontrol popularitasnya, Politikus Spanduk ini biasanya tidak segan-segan menghamburkan uang dalam pasar demokrasi. Dengan setumpuk modal yang dimiliki ia sanggup membangunkan orang tidur sekalipun untuk menatap gambar dan foto dirinya di media elektronik dan media cetak. Hampir semua ruang publik dan waktu dapat dibeli untuk menyapa rakyat secara dadakan. Spanduk tergantung disetiap sudut kota untuk memproklamirkan dirinya sebagai orang yang lebih baik dibandingkan orang lainnya. Baliho ukuran raksasa bergambar dirinya menebar janji dan harapan ditancapkan hampir di setiap perempatan jalan. Brosur disebar ke pasar-pasar tradisional, warung kopi, kedai, dan tempat-tempat komunitas lainnya. Pohon-pohon di pinggir jalan disulap menjadi galeri tempat menempel foto-foto dirinya. Baju kaos bergambar dirinya sebagai pemimpin masa depan dibagikan gratis, dan masih banyak lainnya yang tiba-tiba serba gratis.
Dalam literatur ilmu politik, teori kepura-puraan Machiavelli bisa di pakai untuk menyikapi bergentayanganya politikus spanduk setiap digelarnya pemilu. Kata Machiavelli, setiap penguasa (politikus) harus pintar "hidup dalam kepura-puraan". Pura-pura empati, bermoral, sopan, santun, bersih, dan berbudi luhur. Tiba-tiba murah senyum menebar pesona, tiba-tiba berbudi luhur menyapa setiap tetangga, tiba-tiba empati suka menyumbang, tiba-tiba menyantuni anak yatim-piatu, dan banyak lagi serba tiba-tiba atau dadakan seperti tahu bulat yang membuat rakyat terkesima memandang sosoknya.
Dengan uang, politikus spanduk bisa saja membangun popularitasnya, tetapi karena sifatnya dadakan maka tidak pernah bisa menjadi idola. Karena untuk menjadi idola dihati rakyat tidak bisa instan, butuh waktu relatif lama untuk melahirkan pemikiran cemerlang dan karya-karya nyata. Disinilah kelemahan dasar politikus spanduk, dia tidak menyadari kalau menjadi populer berbeda dengan menjadi idola. Populer belum tentu menjadi idola, sementara idola sudah pasti menjadi populer.
Industri Politik sekarang menunjukkan adanya pergeseran perilaku pemilih di pasar demokrasi yang lebih mencintai tokoh idola (merskyat) bukan sekedar popularitas. Hal ini disebabkan, karena idola dan popularitas punya selisih harga. Secara sosiologis, seorang idola sudah pasti memiliki nilai lebih atau daya tarik tersendiri. Seorang idola sudah tentu memiliki banyak pengikut yang mengidentifikasikan dirinya dengan tokoh idolanya. Sementara orang populer belum tentu punya pengikut, karena membunuh, merampok, memperkosa, koruptor bisa menjadi populer.
Untuk menyikapi munculnya berbagai karakter politikus spanduk yang menjual kecap di pasar demokrasi, maka rakyat sebagai konsumen produk keputusan politik harus menjadi pemilih kalkulatif. Pemilih yang bisa mengkalkulasi untuk dan ruginya memilih seorang politikus, baik yang akan duduk di lembaga legislatif, maupun politikus yang masuk bursa Pemilukada dan Pilpres. Rakyat jangan terkecoh lagi dengan politik pencitraan yang menganut paham bohongisme. Sekali salah memilih politikus/partai politik, maka sistem ketatanegaraan kita mengharuskan menunggu lima tahun untuk melakukan perubahan.
Karena itu, kita perlu mendengarkan pesan Bang Napi "Waspadalah-waspadalah-waspadalah" dalam menentukan pilihan. Pesan bijak ini perlu dimaknai, karena setiap jelang pemilu banyak politikus ramai-ramai memakai topeng menyembunyikan wajah aslinya. Ibarat mau menantu, para politikus rajin ke salon-salon kecantikan sebagai persiapan datang melamar rakyat. Begitulah nasib rakyat, hanya disayang, dibelai, dipeluk, digendong dan ditimang-timang pada waktu kampanye. Setelah itu rakyat kembali dilupakan, dibohongi, dibodohi, ditindas, dan bahkan dijajah lagi. Lalu apakah rakyat ditakdirkan untuk dibohongi? Nantikan Tulisan Selanjutnya di zone-hohohihe.blogspot.co.id
Referensi: Berpolitik dengan Biaya Murah (Solusi Mencegah Politsi Korupsi) oleh Ruslan Ismail Mage
Tidak ada komentar:
Posting Komentar